Postingan

Part 7 - Indah Seperti Dulu

“Ran, aku deg-degan banget.” Kata Bayu. Kirana hanya menggenggam erat tangan Bayu. Kemeja putih Bayu mulai basah karena keringat. Hari ini, Bayu akan sidang skripsi. Setelah beberapa bulan, bergumul dengan skripsi akhirnya Bayu sampai juga pada tahap ini. “Ambil napas….. keluarin lagi…..” Kirana menatap Bayu yang mengikuti perintahnya. “yang bikin skripsi kan kamu, yang tau segala seluk-beluk yang ada di skripsi itu ya kamu. Jadi kamu harus yakin dong. Ok?” “Iya sayang…” senyum Bayu mengembang. Kemudian setelah teman Bayu akhirnya keluar dari ruang sidang, giliran Bayu yang masuk. Bayu memasuki ruang sidang dengan sebelumnya berkata lirih pada Kirana, doain aku . Kirana akhirnya menunggu sendirian di depan ruang sidang. Tidak disangka, setelah Kirana memilih untuk kembali bersama Bayu lima bulan yang lalu, hubungan mereka bisa dikatakan sangat baik-baik saja. Sayangnya, semenjak itu Naga justru agak menjauhi Kirana. Bukan apa-apa, Bayu agak cemburu dengan Naga yang hampir tiap ...

Part 6 - Memilih

Mango smoothies di depan Kirana sudah hampir habis, tapi orang yang ditunggu Kirana tidak kunjung datang. Semalam Kirana sudah sampai di Bandung lagi dan langsung mengiyakan ajakan bertemu dari Bayu untuk hari ini. Tapi sudah 20 menit Kirana menunggu, Bayu masih tidak terlihat batang hidungnya. Beberapa saat kemudian, Kirana yang duduk tepat di samping jendela café melihat Bayu yang berlari-lari dari arah kampus. Denting lonceng di atas pintu terdengar bersamaan dengan kemunculan Bayu di café bertema music and art ini. “Maaf ya Ran, aku tadi rapat. Aku kira bakal selesai tepat waktu, ternyata molor lama banget. Kamu udah nunggu lama?” suara Bayu terdengar terengah-engah. Kirana hanya tersenyum dan menyuruh Bayu duduk. “Kamu pesan dulu aja Bay.” kata Kirana sambil menyodorkan menu yang tadi diberikan waiter padanya. Bayu membolak-balik buku menu kemudian segera memanggil waiter untuk memesan. Bayu yang sudah mulai bisa mengatur napasnya melemparkan senyum pada Kirana. “M...

Part 5 - Kemudian Kembali

Kirana masih tidur-tiduran setelah akhirnya bisa menemui kasur empuknya. Terdengar suara notifikasi tanda chat masuk. Kirana yang malas untuk mengambil smartphone nya, hanya membiarkan dan kemudian memejamkan mata untuk memasuki alam mimpi. Malamnya, setelah matanya kembali segar, Kirana mulai mengecek notifikasi di smartphone nya. Satu pesan yang masuk sejak tadi sore berhasil membuat Kirana berhenti bernapas sejenak. Dari Bayu, mantan kekasihnya yang memutuskannya hampir tiga tahun yang lalu. Kirana masih merapalkan dalam hatinya bahwa Bayu adalah masa lalu dan sudah tidak perlu lagi dipikirkannya. Tapi, ada secuil hatinya yang tidak setuju dan bersikeras untuk memaksanya menemui Bayu. Malam yang masih panjang itu, dihabiskan Kirana untuk memilah-milih apa yang harus dilakukannya besok. Tanpa sadar dalam lamunannya Kirana menekan tombol call pada nama Nagasaki. “Halo, Na.” sapa suara di seberang. Kirana kaget dan segera melihat layar smartphone . Gue kenapa jadi telepon Naga si...

Part 4 - Bukit Moko

Meski bintang tidak didapat Kirana semalam, tapi sekarang wajahnya ceria setelah mendapati langit cerah saat memasuki waktu-waktu matahari terbit. Naga yang daritadi malam memang tidak tidur untuk memastikan perempuan di sebelahnya ini tidur dengan nyaman,sedikit demi sedikit terhapus letihnya setelah melihat senyuman Kirana yang merekah sempurna subuh ini. Naga meneguk air mineral kemudian menyodorkan botol air mineral lain ke Kirana, “minum gih, pagi-pagi bagusnya minum air mineral setidaknya satu gelas.” Kirana menerimanya kemudian tanpa bersuara dia mengucap bawel, walaupun pada akhirnya dia meneguk hampir setengah botol air mineral tersebut. Matahari mulai mengintip dan sedikit demi sedikit naik. Naga yang memang sudah mempersiapkan kamera dan tripodnya memastikan bahwa dia memang sedang merekam detik demi detik peristiwa sunrise ini. Bukan pertama kali memang bagi Naga, tapi melihat sunrise bersama perempuan di sebelahnya itu yang pertama kali. Memastikan semuanya sudah mas...

Part 3 - Tutup Telinga

Komisi disiplin dari berbagai fakultas masih berteriak-teriak nggak jelas. Alasannya hanya karena salah satu mahasiswa sengaja tidak potong rambut meski aturannya melarangnya demikian. Sayangnya, meski yang salah hanya satu, komisi disiplin itu bersitegas untuk tetap memarahi semua mahasiswa baru. Katanya, akibat keapatisan satu sama lain, ada yang masih melanggar peraturanpun nggak ada satupun yang menasehati. Mahasiswa gondrong yang justru cengengesan saat semua mata komisi disiplin menatapnya adalah Naga. Dan Kirana yang berdiri di tengah barisan mahasiswa baru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kirana tahu Naga karena dia adalah teman satu kelompok ospek ini. Kirana bahkan sudah dari awal menasehati Naga untuk memotong rambutnya, tapi emang Naga sesongong itu akhirnya kena jugalah dia. Kirana yang masih fokus melihat Naga yang sedang disemprot ketua komisi disiplin, melihat sekilas bayangan Bayu melewati koridor gedung yang tepat ada di depan Kirana. Bayu menatap sekilas ke a...

Part 2 - Tiga Tahun Kemudian

Kirana berjalan di koridor kampus dengan langkah tergesa. Di sampingnya, seorang pria juga mengikuti langkahnya. Keduanya memasang wajah serius seperti dikejar-kejar sesuatu atau mengejar-ngejar sesuatu. Pria dengan rambut gondrong di sebelah Kirana adalah Naga. Teman sepenanggungan di Public Relations yang memang selalu setia ada di samping Kirana sejak semester satu Kirana kuliah di sini. Di ujung lorong, kemudian keduanya berbelok menuju kelas P31. Ternyata keduanya terlambat masuk kelas. Pak Bowo yang terkenal killer hanya melihat keduanya dari bawah ke atas saat keduanya mengetuk pintu dan meminta izin masuk. “Kalian…. memang masuk kelas ini?” Tanya Pak Bowo. Seketika kelas sunyi dan Kirana serta Naga hanya saling adu pandang. Naga kemudian angkat bicara, “Betul Pak,saya Naga dan ini Kirana mahasiswa kelas Bapak.” “Saya kira kalian sudah tahu apa konsekuensinya jika terlambat masuk kelas saya.” Terdengar Kirana menelan ludah. Mampus! Kirana dalam hati. “Sudah Pak, tap...

Part 1 - Tiga Tahun yang Lalu

Hujan rintik-rintik menemani senja hari itu. Kirana sambil memilin-milin rambutnya tersenyum sambil sesekali tertawa lirih. Matanya tidak lepas dari smartphone yang ada digenggamannya. Matanya kemudian memandang lepas menuju jendela yang basah akibat air hujan. Ia menerawang, memastikan bahwa langit yang kini dilihatnya masih sama seperti yang mungkin dilihat oleh Bayu jauh di sana. Kirana tersenyum sedih, padahal dia sudah tahu pasti bahwa inilah risikonya jika menerima Bayu menjadi kekasihnya. Bayu sedang kuliah, tepatnya di universitas yang berjarak lebih dari 40 0 kilometer dari Kirana yang duduk di pinggiran kasurnya itu. Sudah sekitar delapan bulan yang lalu, Kirana dan Bayu akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Tepat sebelum Bayu berangkat menuju tempat perantauannya. Kirana yang memang sudah memendam perasaan pada Bayu, kakak kelasnya semenjak dia menginjakkan kaki di SMA Harapanpun, akhirnya mengiyakan saat Bayu memintanya menjadi kekasih. Kembali Kirana meli...