Postingan

Menampilkan postingan dengan label putus cinta

Part 9 - Naga (End)

Seorang pria terlihat serius membolak-balik katalog sambil sesekali mengetikkan sesuatu di laptopnya. Merasa terganggu dengan anak rambut yang menutupi matanya, pria itu kemudian berhenti sejenak dari kegiatannya. Dia melingkarkan karet rambut seadanya untuk merapikan rambut gondrongnya. Suara pintu diketuk dari luar terdengar keras. “Ya, silakan masuk.” Seru pria gondrong tadi. “Bang, ada client di depan. Katanya udah ada janji siang ini.” Kata pria yang tadi mengetuk pintu. “Suruh masuk aja, gue juga lagi ngerjain punya dia.” “Siap, Bang.” Pria pengetuk pintu itu pergi dan beberapa saat kemudian kembali lagi dengan ditemani sepasang pria dan wanita. “Ini Bang, gue tinggal ya.” “Silakan duduk, mbak Sari, mas Agung.” Kata pria gondrong sambil berjalan menuju sofa empuk yang memang disediakan untuk para client nya. “Iya Pak Naga, gimana udah ada gambaran buat konsep pernikahan yang kita mau?” Tanya wanita yang tadi dipanggil mbak Sari oleh pria gondrong yang ternyata adal...

Part 8 - Kenyataan

Dua hari sebelum tunangan resmi Bayu dan Kirana, Naga kembali menghubungi Kirana. Tapi Kirana memilih mengabaikan telepon dari Naga. Padahal sebenarnya jauh di lubuk hati Kirana, dia mulai ragu dengan Bayu. Ringtone smartphone Kirana kembali terdengar, dengan malas Kirana menilik nama di layar tersebut. Melihat nama Bayu, instead Naga, Kirana akhirnya menggeser tombol hijau. “Kirana, kamu di rumah kan? Aku jemput ya, kita keluar. Aku mau ngomong.” Begitu saja, kemudian hanya nada telepon dimatikan yang didengar Kirana. Tidak lama setelah itu, suara motor Bayu terdengar dari luar pagar. Kirana dengan sigap segera menemui Bayu dan mereka berkendara menuju Kolase , salah satu café di daerah stasiun kota Bandung. Kirana merasa dejavu , hatinya kalut karena merasa hari ini bukan hari yang baik untuk dia. Setelah Bayu dan Kirana mendapatkan makanan dan minuman pesanan mereka, Bayu berdeham tanda dia akan mulai berbicara. “Kirana….” Panggil Bayu. Kirana kemudian memandangi Bayu lama...

Part 7 - Indah Seperti Dulu

“Ran, aku deg-degan banget.” Kata Bayu. Kirana hanya menggenggam erat tangan Bayu. Kemeja putih Bayu mulai basah karena keringat. Hari ini, Bayu akan sidang skripsi. Setelah beberapa bulan, bergumul dengan skripsi akhirnya Bayu sampai juga pada tahap ini. “Ambil napas….. keluarin lagi…..” Kirana menatap Bayu yang mengikuti perintahnya. “yang bikin skripsi kan kamu, yang tau segala seluk-beluk yang ada di skripsi itu ya kamu. Jadi kamu harus yakin dong. Ok?” “Iya sayang…” senyum Bayu mengembang. Kemudian setelah teman Bayu akhirnya keluar dari ruang sidang, giliran Bayu yang masuk. Bayu memasuki ruang sidang dengan sebelumnya berkata lirih pada Kirana, doain aku . Kirana akhirnya menunggu sendirian di depan ruang sidang. Tidak disangka, setelah Kirana memilih untuk kembali bersama Bayu lima bulan yang lalu, hubungan mereka bisa dikatakan sangat baik-baik saja. Sayangnya, semenjak itu Naga justru agak menjauhi Kirana. Bukan apa-apa, Bayu agak cemburu dengan Naga yang hampir tiap ...

Part 6 - Memilih

Mango smoothies di depan Kirana sudah hampir habis, tapi orang yang ditunggu Kirana tidak kunjung datang. Semalam Kirana sudah sampai di Bandung lagi dan langsung mengiyakan ajakan bertemu dari Bayu untuk hari ini. Tapi sudah 20 menit Kirana menunggu, Bayu masih tidak terlihat batang hidungnya. Beberapa saat kemudian, Kirana yang duduk tepat di samping jendela café melihat Bayu yang berlari-lari dari arah kampus. Denting lonceng di atas pintu terdengar bersamaan dengan kemunculan Bayu di café bertema music and art ini. “Maaf ya Ran, aku tadi rapat. Aku kira bakal selesai tepat waktu, ternyata molor lama banget. Kamu udah nunggu lama?” suara Bayu terdengar terengah-engah. Kirana hanya tersenyum dan menyuruh Bayu duduk. “Kamu pesan dulu aja Bay.” kata Kirana sambil menyodorkan menu yang tadi diberikan waiter padanya. Bayu membolak-balik buku menu kemudian segera memanggil waiter untuk memesan. Bayu yang sudah mulai bisa mengatur napasnya melemparkan senyum pada Kirana. “M...

Part 5 - Kemudian Kembali

Kirana masih tidur-tiduran setelah akhirnya bisa menemui kasur empuknya. Terdengar suara notifikasi tanda chat masuk. Kirana yang malas untuk mengambil smartphone nya, hanya membiarkan dan kemudian memejamkan mata untuk memasuki alam mimpi. Malamnya, setelah matanya kembali segar, Kirana mulai mengecek notifikasi di smartphone nya. Satu pesan yang masuk sejak tadi sore berhasil membuat Kirana berhenti bernapas sejenak. Dari Bayu, mantan kekasihnya yang memutuskannya hampir tiga tahun yang lalu. Kirana masih merapalkan dalam hatinya bahwa Bayu adalah masa lalu dan sudah tidak perlu lagi dipikirkannya. Tapi, ada secuil hatinya yang tidak setuju dan bersikeras untuk memaksanya menemui Bayu. Malam yang masih panjang itu, dihabiskan Kirana untuk memilah-milih apa yang harus dilakukannya besok. Tanpa sadar dalam lamunannya Kirana menekan tombol call pada nama Nagasaki. “Halo, Na.” sapa suara di seberang. Kirana kaget dan segera melihat layar smartphone . Gue kenapa jadi telepon Naga si...

Part 3 - Tutup Telinga

Komisi disiplin dari berbagai fakultas masih berteriak-teriak nggak jelas. Alasannya hanya karena salah satu mahasiswa sengaja tidak potong rambut meski aturannya melarangnya demikian. Sayangnya, meski yang salah hanya satu, komisi disiplin itu bersitegas untuk tetap memarahi semua mahasiswa baru. Katanya, akibat keapatisan satu sama lain, ada yang masih melanggar peraturanpun nggak ada satupun yang menasehati. Mahasiswa gondrong yang justru cengengesan saat semua mata komisi disiplin menatapnya adalah Naga. Dan Kirana yang berdiri di tengah barisan mahasiswa baru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kirana tahu Naga karena dia adalah teman satu kelompok ospek ini. Kirana bahkan sudah dari awal menasehati Naga untuk memotong rambutnya, tapi emang Naga sesongong itu akhirnya kena jugalah dia. Kirana yang masih fokus melihat Naga yang sedang disemprot ketua komisi disiplin, melihat sekilas bayangan Bayu melewati koridor gedung yang tepat ada di depan Kirana. Bayu menatap sekilas ke a...

Part 2 - Tiga Tahun Kemudian

Kirana berjalan di koridor kampus dengan langkah tergesa. Di sampingnya, seorang pria juga mengikuti langkahnya. Keduanya memasang wajah serius seperti dikejar-kejar sesuatu atau mengejar-ngejar sesuatu. Pria dengan rambut gondrong di sebelah Kirana adalah Naga. Teman sepenanggungan di Public Relations yang memang selalu setia ada di samping Kirana sejak semester satu Kirana kuliah di sini. Di ujung lorong, kemudian keduanya berbelok menuju kelas P31. Ternyata keduanya terlambat masuk kelas. Pak Bowo yang terkenal killer hanya melihat keduanya dari bawah ke atas saat keduanya mengetuk pintu dan meminta izin masuk. “Kalian…. memang masuk kelas ini?” Tanya Pak Bowo. Seketika kelas sunyi dan Kirana serta Naga hanya saling adu pandang. Naga kemudian angkat bicara, “Betul Pak,saya Naga dan ini Kirana mahasiswa kelas Bapak.” “Saya kira kalian sudah tahu apa konsekuensinya jika terlambat masuk kelas saya.” Terdengar Kirana menelan ludah. Mampus! Kirana dalam hati. “Sudah Pak, tap...